Senin, 13 Mei 2019

BHAKTI SEJATI DALAM RAMÀYANA

A.  Ajaran Bhakti Sejati

           Kata Bhakti  (Bahasa Sanskerta) berarti pengabdian atau bagian. Orang yang melakukan bhakti disebut bhakta, sementara bhakti sebagai jalan spiritual disebut sebagai bhakti margaatau jalan bhakti.
           Bhakti sejati adalah sujud, memuja, hormat setia, taat, memperhambakan diri dan kasih sayang, sebenarnya, tekun, sungguh-sungguh berdasarkan rasa, cinta, dan kasih yang mendalam memuja Ida Sang Hyang Widhi atau yang dipujanya.
          Bhakti sejati adalah pemujaan yang dilakukan seseorang kepada yang dipujanya dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa hormat, cinta kasih yang mendalam untuk memohon kerahayuan bersama.
           Jalan untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi Wasa ada empat cara/jalan yang sering disebut dengan Catur Marga yang diantaranya
1.    Karma marga yaitu berbakti dengan cara berbuat/bekerja,
2.   Bhakti marga yaitu berbhakti dengan cara melakukan persembahan/sujud bhakti,
3.    Jnana marga yaitu berbhakti dengan cara mentransfer ilmu pengetahuan yang kita miliki,
4.    Raja marga yaitu berbhakti dengan cara mempraktekkan ajaran-ajaran agama seperti melakukan tapa, bratha, yoga dan samadhi.

B. Bagian-bagian Ajaran Bhakti Sejati
         Kitab Bhagavata Purana VII.5.23 menyebutkan ada 9 jenis bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut dengan istilah Navavidha bhakti, diantaranya:
1.  Srawanam yang berarti berbhakti kepada Tuhan dengan
    cara membaca atau mendengarkan hal-hal yang
    bermutu seperti pelajaran/ceramah keagamaan,
    cerita-cerita keagamaan dan nyanyian-nyanyian
    keagamaan, membaca kitab-kitab suci.
2.  Kirtanam yang berarti berbhakti kepada Tuhan dengan
     jalan menyanyikan kidung suci keagamaan atau kidung
     suci yang mengagungkan kebesaran Tuhan dengan
     penuh pengertian dan rasa bhakti yang ikhlas serta
     benar-benar menjiwai isi kidung tersebut.
3.  Smaranam adalah cara berbhakti kepada Tuhan dengan
     cara selalu ingat kepada-Nya, mengingat nama-Nya,
     bermeditasi. Setiap indera kita menikmati sesuatu, kita
     selalu ingat bahwa semua itu adalah anugrah dari
     Tuhan. Cara yang khusus untuk selalu mengingat Beliau
     adalah dengan mengucapkan salah satu gelar Beliau
     secara berulang-ulang misalnya: “Om Nama Siwa ya”.
     Pengucapan yang berulang-ulang ini disebut dengan
     japa atau japa mantra.
4.  Padasevanam yaitu dengan memberikan pelayanan
     kepada Tuhan Yang Maha Esa, termasuk melayani,
     menolong berbagai mahkluk ciptaannya.
5.  Arcanam yaitu berbhakti kepada Tuhan dengan cara
     memuja keagungan-Nya.
6.  Vandanam yaitu berbhakti kepada Tuhan dengan jalan
     melakukan sujud dan kebhaktian.
7.  Dhasyam yaitu berbhakti kepada Tuhan dengan cara
     melayani-Nya dalam pengertian mau melayani mereka
     yang memerlukan pertolongan dengan penuh keiklasan.
8.  Sukhyanam yaitu memandang Tuhan Yang Maha Esa
     sebagai sahabat sejati, yang memberikan pertolongan
     ketika dalam bahaya.
9.  Atmanivedanam adalah berbhakti kepada Tuhan
     dengan cara menyerahkan diri sepenuhnya kehadapan
     Hyang Widhi. Seseorang yang menjalankan bhakti
     dengan cara ini akan melakukan segala sesuatunya
     sebagai persembahan kepada Tuhan.

Bhaktyã mãm abhijãnãti,
yãvãn yas cha ‘smi tatvatah’,
tato tattvato mãm jnãtvã
visate tadanantaram. (Bhagawadgita, XVIII.55)

terjemahannya:
Dengan berbhakti kepada-Ku, ia mengetahui siapa dan apa sesungguhnya Aku, dan dengan mengetahui hakekat-Ku, ia mencapai Aku dikemudian hari (Pudja, 2004 : 434).

C. Çloka Ajaran Bhakti Sejati dalam Rāmāyana

       Rāmāyana adalah kitab suci Veda Smrti tergolong Upaveda yang disebut Itihasa. Rāmāyana sebagai Itihasa yang terdiri dari 7 Kanda dengan jumlah sloka sebanyak 24.000 buah stanza. Ramãyana sebagai kitab suci Veda ditulis oleh Bhãgawan Walmiki. Menurut tradisi, kejadian yang dilukiskan di dalam Ramãyana menggambarkan kehidupan pada zaman Tretayuga tetapi menurut kritikus Barat berpendapat bahwa Ramãyana sudah selesai ditulis sebelum tahun 500 S.M. Diduga ceritanya telah populer tahun 3100 S.M.

Kitab Ramayana adalah karya sastra yang ditulis oleh Maharsi Walmiki, terbagi menjadi 7 ( tujuh ) bagian dengan istilah ” Sapta Kanda ” bagian-bagiannya antara lain :
1. Bala kanda
   Dalam cerita ini mengisahkan Sang Prabu Dasarata
   mempunyai 3 ( tiga ) orang istri / permaisuri beserta
   dengan anak-anaknya yaitu :
–      Dewi Kosalya dengan putra Sang Rama Dewa.
–      Dewi Kekayi dengan putra Sang Bharata.
–      Dewi Sumitra dengan putranya Sang Laksamana dan
        Sang Satrugna.
        Juga diceritakan kemenangan Ramadewa mengikuti
        sasembara di Matila sehinha mendapatkan istri Dewi
        Sita anak dari Prabu Janaka.
2. Ayodya kanda
    Setelah Sang Ramadewa berhasil memperistri Dewi Sita,
    maka sepulang dari Matila Prabhu Dasarata ingin
    menyeraikan kerajaan ayodya kepada Ramadewa ,
    tetapi terhalang oleh Dewi Kekayi mengingat janjinya
    di  tengah hutan terdahulu . Karena bijaksananya
   Ramadewa keesokan harinya perggi ke hutan dengan
   istrinya ( Dewi Sita ), diikuti oleh adiknya ” Sang
   Laksamana “. Pada saat itu pula terdengar oleh Sang
   Bharata, akhirboya Bharata menolak permintaan ibunya,
   langsung ke hvan mencari Ramadewa, karena satya
   wacana ( setia pada perkataannya ) akhirnya Rama dewa
   menyerahkan terompah ( alas kaki ) sebagai simbul Sang
   Rama selama perjalanan ke hutan pertapa.
3. Aranya kanda
   Setelah sampai di hutan Citra Kuta , sering dikunjungi
   para pertapa untuk meminta bantuan dari gangguan
   raksasa. Sempat pula diganggu oleh raksasa surpanaka
   karena melihat ketampanan rama dan laksamana,
   karena tidak sabar mendapatkan godaan, hidung
   surpanaka dipotong oleh Laksamana. Karena kesalnya
   Surpanaka melapor kepada kakaknya yaitu Rahwana.
   Akhirnya rahwana mengutus Marica untuk
   mematai-matai Rama dengan berubah wujud menjadi
   Kijang mas. Sempat Ramadewa terseret oleh tipuan
   marica, karena permintaan Sita yang menginginkan
   kijang itu, sedangkan Sita dijaga oleh Laksamana .
   Karena tipuan marica juga membua Sita panik dan
   menyuruh Laksamana membantu Ramadewa,
   ditinggalkah Sita sendiri tetapi dengan kekuatannya
   Laksamana sempat membuat sengker / garis dengan
   kekuatan pelindung, sipapun tidak akan bisa melewati
   termasuk dewa. Karena itu Rahwana berubah wujud
   menjadi Bhiku untuk menarik simpati Sita. Akhirnya Sita
   keluar dari pelindung yang dibuat Laksamana kemudian
   diculiklah Sita dan dibawa ke Alengka.
4. Kiskinda kanda
    Setelah Sita dilarikan oleh oleh Rahwana ke Alengka,
    Rama dan Laksamana begitu tidak melihat Sita di
    pasraman langsung mencasinya ke tengah hutan.
    Sampai di perjalanan bertemu dengan Burung Jatayu
    dalam keadaan luka parah pada saat bertempur untuk
    merebut dan menolong Sita dari tangan Rahwana.
    Akhirnya Jatayu memilih untuk mati, karena
    kebaikannya dia diberi pengentas ke sorga oleh
    Ramadewa dengan sebuah panahnya. Kemudian
    melanjutkan perjalanannya, bertemu Sugriwa untuk
    meminta banduan agar dapat mengalahkan Subali
    dalam memperebutkan Dewi Tara. Ramadewa kemudian
    mebantu Sugriwa untuk mengalahkan Subali dan dapat
    dikalahkan. Sugriwa setelah aman kemudian membantu
    untuk membalas jasa, Rama dalam mencari Dewi Sita.
5. Sundara kanda
    Dalam pencarian Sita, Anoman diutus sebagai duta
    untuk menyelidiki Sita ke Alengka, dia berhasil menemui
    Sita dan memberi cerita bahwa segera dijemput ke
    Alengka. Selesai bercerita dengan Sita, Anoman sempat
    ditangkap tetapi dengan kesaktianya melepaskan diri
    dan sempat membakar Alengka sampai hangus.
    Kemudian Anoman kembali melaporkan keadaan Sita
    kepada Rama. Sugriwa langsung menyusun siasat agar
    dapat menyebrangi lautan ke Alengka dengan membuat
    jembatan yang disebut dengan Titi Banda.
6. Yudha kanda
    Setelah jembatan Banda berhasil dibuat / dibangun,
    Sugriwa mengerahkan pasukan keranya untuk
    menggempur Alengka. Pertempuran yang sengit antara
    kedua pasukan, dan pertempupan yang hebat terjadi
    antara Rama dan Rahwana , tetapi dimenangkan oleh
    Rama. Wibisana juga membantu. Mengingat jasa
    Wibisana sangat besar akhirnya diangkat menjadi raja
    Alengka. Kemudian Rama, Sita, dan Laksamana diiringi
    oleh tentara kera kembali ke Ayodya. Setibanya di
    Ayodyapura disambut oleh sang Bharata dan langsung
    dinobatkan sebagai raja Ayodya.
7. Uttara kanda
    Setibanya di kerajaan dan sudah lama memerintah ada
    seorang rakyat menyangsikan keberadaan Sita waktu
    disekap oleh Rahwana. Akhirnya Ramadewa menyuruh
    Laksamana untuk mengantarkan Sita ke hutan dan
    dipungut oleh Maharesi Walmiki dalam keadaan
    mengandung.
    Akhirnya tidak begitu lama Dewi Sita melahirkan dua
    orang anak laki-laki kembar diberi nama Kura dan
    Lawa. Setelah besar dididik oleh Maharesi Walmiki ilmu
    perang, ilmu pemerintahan, dan nyanyian Ramayana.
    Setelah Kusa dan Lawa dewasa terdeogar di Ayodya
    diselenggarakan upacara ” Aswameda ” yaitu pelepasan
    kuda berhias diiringi oleh prajurit, setiap yang berani
    menghalangi perjalanan akan berhadapan dengan
    Ramadewa. Tanpa disadari kuda itu melewati tempat
   Kusa dan Lawa. Kemudian melihat kuda berhias
   dipeganglah kuda itu dan ditangkapnya . Terjadilah
   pertempuram sengit antara Ramadewa dan Kusa Lawa,
   dan tidak ada yang menang atau kalah. Hal ini terliiat
    lalu dihentikan oleh walmiki. Barulah diceritakan bahwa
    mereka berdua adalah anak Rama. Diajaklah ke Ayodya
   dan dinobatkan sebagai raja Ayodya. Setelah beberapa
   lama Ramadewa kembali ke Wisnuloka dan Sita kembali
   ke Ibu Pertiwi.

7 komentar:

  1. Numpang promo ya Admin^^
    ayo segera bergabung dengan kami di ionqq^^com
    dengan minimal deposit hanya 20.000 rupiah :)
    Kami Juga Menerima Deposit Via Pulsa & E-Money
    - Telkomsel
    - XL axiata
    - OVO
    - DANA
    segera DAFTAR di WWW.IONPK.CLUB :-*
    add Whatshapp : +85515373217 ^_~

    BalasHapus
  2. Terima kasih ini lagi buat tugas

    BalasHapus