1. menguraikan sistem perkawinan dalam manawa dharmasastra !
jawab :
1. Brahma Wiwaha adalah perkawinan yang terjadi karena
pemberian anak wanita kepada seorang pria yang ahli
Veda. Kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan :
"Pemberian seorang gadis setelah terlebih dahulu dirias
dengan pakaian yang mahal dan setelah menghormati
dengan menghadiahi permata kepada seorang yang ahli
dalam veda lagi pula budi bahasanya yang baik, yang
diundang (oleh ayah si wanita) disebut acara brahma
wiwaha"
2. Daiwa Wiwaha adalah perkawinan yang terjadi karena
pemberian anak wanita kepada seorang pendeta yang
melaksanakan upacara atau yang telah berjasa. Kitab
Manawa Dharmasastra menjelaskan :
"Pemberian seorang anak wanita yang setelah terlebih
dahulu dihias dengan perhiasan-perhiasan kepada
seorang Pendeta yang melaksanakan upacara pada saat
upacara itu berlangsung disebut acara Daiwa wiwaha"
3. Arsa Wiwaha adalah perkawinan yang dilakukan sesuai
dengan peraturan setelah pihak wanita menerima seekor
sapi atau dua pasang lembu dari pihak calon mempelai
laki-laki, kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan :
Kalau seorang ayah mengawinkan anak perempuannya
sesuai dengan peraturan setelah menerima seekor sapi
atau dua pasang lembu dari pengantin pria untuk
memenuhi peraturan dharma disebut arsa wiwaha.
4. Prajapati Wiwaha adalah perkawinan yang terlaksana
karena pemberian seorang anak wanita kepada seorang
pria, setelah berpesan dengan mantra semoga kamu
berdua melaksanakan kewajibanmu bersama dan
setelah menunjukkan penghormatan kepada pengantin
pria.
Kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan :
"Pemberian seorang anak perempuan oleh ayah si wanita
setelah berpesan kepada mempelai dengan mantra
“semoga kamu berdua melaksanakan kewajiban-
kewajiban bersama-sama” dan setelah menunjukkan
penghormatan kepada pengantin pria perkawinan ini
disebut perkawinan Prajapati”
5. Asura Wiwaha adalah bentuk perkawinan yang terjadi di
mana setelah pengantin pria memberikan mas kawin
sesuai kemampuan dan didorong oleh keinginannya
sendiri kepada si wanita dan ayahnya menerima wanita
itu untuk dimiliki. Kitab Manawa Dharmasastra
menjelaskan :
"Kalau pengantin pria menerima seorang perempuan
setelah pria itu memberi mas kawin sesuai menurut
kemampuannya dan didorong oleh keinginannya sendiri
kepada mempelai wanita dan keluarganya. perkawinan
ini disebut perkawinan Asura"
6. Gandharwa Wiwaha adalah bentuk perkawinan suka
sama suka antara seorang wanita dengan pria. Kitab
Manawa Dharmasastra menjelaskan :
"Pertemuan suka sama suka antara seorang perempuan
dengan kekasihnya yang timbul dari nafsunya dan
bertujuan melakukan hubungan kelamin. Perkawinan ini
disebut perkawinan Gandharwa"
7. Raksasa Wiwaha adalah bentuk perkawinan dengan
menculik gadis secara kekerasan, Kitab
Manawadharmasastra menjelaskan :
"Melarikan seorang gadis dengan paksa dari rumahnya
di mana wanita berteriak- teriak menangis setelah
keluarganya terbunuh atau terluka, rumahnya dirusak.
Perkawinan ini disebut perkawinan Raksasa"
8. Paisaca Wiwaha adalah bentuk perkawinan dengan cara
mencuri, memaksa, dan membuat bingung atau mabuk,
Kitab Manawa Dharmasastra menjelaskan :
"Kalau seorang laki-laki dengan cara mencuri-curi
memperkosa seorang wanita yang sedang tidur, sedang
mabuk atau bingung, cara demikian adalah perkawinan
paisaca yang amat rendah dan penuh dosa"
2. menjelaskan sistem wiwaha di bali !
jawab :
1. Sistem memadik/meminang, yaitu pihak calon suami
serta keluarganya datang ke rumah calon istrinya untuk
meminang. Biasanya kedua calon mempelai sebelumnya
telah saling mengenal dan ada kesepakatan untuk
berumah tangga. Dalam masyarakat Bali, sistem ini
dipandang sebagai cara yang paling terhormat.
2. Sistem ngerorod/ngerangkat, yaitu bentuk perkawinan
yang berlangsung atas dasar cinta sama cinta antara
kedua calon mempelai yang sudah dipandang cukup
umur. Jenis perkawinan ini sering disebut kawin lari.
3. Sistem nyentana/nyeburin, yaitu sistem perkawinan
yang dilaksanakan berdasarkan perubahan status
hukum dimana calon mempelai wanita secara adat
berstatus sebagai purusa dan calon mempelai laki-laki
berstatus sebagai pradana. Dalam hubungan ini laki-laki
tinggal di rumah istri
4. Sistem melegandang, yaitu bentuk perkawinan secara
paksa yang tidak didasari atas cinta sama cinta. Jenis
perkawinan ini dapat disamakan dengan Raksasa
Wiwaha dan Paisaca Wiwaha dalam kitab Manawa
Dharmasastra.
3. menjabarkan tata cara pawiwahan di bali !
jawab :
1. Meminta ijin
Pada hari ini orang tua calon pengantin pria datang ke
rumah calon pengantin wanita bertemu dengan orang
tuanya untuk bermusyawarah mengenai tujuan dari
kedua calon pengantin serta meminta persetujuan
kepada orang tua calon pengantin wanita
2. Menentukan Hari Baik
Setelah sebelumnya keluarga calon mempelai pria datang untuk meminang atau dalam bahasa Bali disebut memadik atau ngindih, kedua belah pihak keluarga beranjak untuk memilih waktu yang tepat untuk menikahkan kedua putra putri mereka. Warga Bali yang sangat religius, mempercayai hari baik untuk melaksanakan pernikahan. Dimana hari baik yang telah disepakati tersebut, menjadi hari bagi calon mempelai wanita untuk dijemput dan dibawa ke rumah calon mempelai pria.
3. Ngekeb
Sama halnya dengan ritual siraman pada adat Jawa, dalam adat pernikahan Bali pun mempunyai tradisi demikian. Perbedaannya, sebelum siraman, calon mempelai wanita dilulurkan oleh ramuan yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga dan beras yang telah ditumbuk halus, serta air merang untuk keramas. Persiapan ini sebagai bentuk menyambut hari pernikahan keesokan harinya. Selain persiapan secara lahiriah, mental atau batin pun perlu persiapan dengan memperbanyak doa kepada Sang Hyang Widhi agar menurunkan kebahagiaan dan anugerah-Nya. Dalam menjalani ritual ngekeb, calon mempelai wanita dilarang untuk keluar dari kamar mulai sore hari hingga keluarga calon mempelai pria datang menjemput.
4. Penjemputan Calon Mempelai Wanita
Sesuai tradisi, perayaan pernikahan tidak diadakan di kediaman pihak wanita seperti kebanyakan daerah, tetapi dilaksanakan di kediaman pihak laki-laki. Itu sebabnya mengapa calon mempelai wanita dijemput. Namun, sebelum dijemput untuk dibawa, calon mempelai wanita telah diselimuti kain kuning tipis mulai dari ujung rambut hingga kaki. Kain kuning yang membungkus calon mempelai wanita diibaratkan bahwa mempelai wanita telah siap mengubur masa lalunya sebagai lajang untuk menyongsong kehidupan baru, kehidupan berumah tangga.
5. Mungkah Lawang (Buka Pintu)
Sedikit mirip dengan upacara buka pintu dalam adat Sunda, perbedaannya terletak pada orang yang mengetuk pintu. Jika dalam tradisi Sunda orang yang mengetuk pintu calon mempelai prianya, tetapi dalam adat Bali ada seorang utusan yang disebut mungkah lawang yang bertugas mengetuk pintu kamar calon mempelai wanita sebanyak tiga kali. Kedatangan mempelai pria juga dipertegas dengan tembang yang dinyanyikan utusan mempelai pria (malat). Syair yang ditembangkan berisikan tentang kehadiran mempelai pria untuk menjemput mempelai wanita. Kemudian tembang balasan yang dilantunkan malat dari pihak wanita terdengar yang mengatakan bahwa mempelai wanita telah siap untuk dijemput.
Mendapat lampu hijau, calon mempelai pria pun membuka pintu setelah diizinkan dan dipersilakan oleh keluarga pihak wanita. Calon mempelai wanita digendong menuju tandu untuk segera dibawa ke kediaman keluarga pria tanpa didampingi kedua orang tua mempelai wanita, tetapi seorang utusan ditunjuk untuk menyaksikan upacara pernikahan.
6. Mesegehagung
Ritual mesegehagung merupakan upacara khusus menyambut mempelai wanita. Setibanya di kediaman mempelai pria, kedua mempelai diturunkan dari tandu untuk bersiap menghadapi prosesi mesegehagung. Sekali lagi, kedua mempelai ditandu menuju kamar pengantin. Kain kuning yang masih menyelimuti tubuh mempelai wanita akan dibuka oleh ibu calon mempelai pria dan ditukar dengan uang kepeng satakan (kepeng sebutan untuk mata uang pada masa lampau) senilai dua ratus kepeng.
7. Mekala-Kalaan (Madengen-Dengen)
Dengan dipandu oleh pendeta Hindu, prosesi mekala-kala dimulai tepat saat bunyi genta bergema. Pelaksanaan mekala-kala harus sesuai dengan tahapan-tahapan berikut ini.
- Menyentuhkan Kaki pada Kala Sepetan
Upacara mekala-kala bertujuan untuk menyucikan dan membersihkan diri kedua mempelai. Mempelai pria memikul tegen-tegenan sementara mempelai wanita membawa bakul perdagangan, lalu keduanya berputar sebanyak tiga kali mengelilingi sanggar pesaksi, kemulan, dan penegteg. Keduanya diwajibkan menyentuhkan kaki pada kala sepetan.
- Jual Beli
Bakul yang dibawa oleh calon mempelai wanita tersebut kemudian akan dibeli oleh calon mempelai pria. Kegiatan tersebut merupakan analogi dari kehidupan berumah tangga yang harus saling melengkapi, memberi dan mengisi, hingga meraih tujuan yang diinginkan.
- Menusuk Tikeh Dadakan
Calon mempelai wanita telah bersiap memegang anyaman tikar yang terbuat dari daun pandan muda (tikeh dadakan). Sedangkan calon mempelai pria memegang keris, siap menghunuskan tikeh dadakan dengan kerisnya. Menurut kepercayaan umat Hindu, tikeh dadakan yang dipegang calon mempelai wanita menyimbolkan kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni), dan keris milik calon mempelai pria perlambangan dari kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga).
- Memutuskan Benang
Sebelum memutuskan benang, kedua mempelai bersama-sama menanam kunyit, talas dan andong tepat di belakang merajan atau sanggah (tempat sembahyang keluarga), sebagai wujud melanggengkan keturunan keluarga. Baru setelah itu, memutuskan benang yang terentang pada cabang dadap (papegatan) yang menganalogikan bahwa kedua mempelai siap menanggalkan masa remaja untuk memulai hidup berkeluarga.
Numpang promo ya Admin^^
BalasHapusayo segera bergabung dengan kami di ionqq^^com
dengan minimal deposit hanya 20.000 rupiah :)
Kami Juga Menerima Deposit Via Pulsa & E-Money
- Telkomsel
- XL axiata
- OVO
- DANA
segera DAFTAR di WWW.IONPK.CLUB :-*
add Whatshapp : +85515373217 ^_~